Sosialisasi Unit Layanan Perpustakaan Berorientasi pada Disabilitas, Perempuan dan Lanjut Usia

26-04-2018

Perpustakaan UK Petra Kian Intensif Melayani Disabilitas

Penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama dengan yang lain sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Hal ini sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia nomer 8 tahun 2016. Akan tetapi yang terjadi sering para penyandang disabilitas ini tak mendapatkan haknya dengan baik. Termasuk didalamnya hak untuk mengakses fasilitas umum seperti perpustakaan. Perpustakaan sangat penting sebab sebagai salah satu fasilitas dalam dunia pendidikan. Perpustakaan UK Petra bekerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) menggelar sosialisasi unit layanan disabilitas di Perpustakaan UK Petra pada hari Sabtu, 28 April 2018 mulai pukul 09:00-12:00 WIB.  

Sosialisasi ini tak hanya diisi dengan seminar saja akan tetapi juga pelatihan bahasa isyarat. Sosialisasi ini menghadirkan tiga pembicara sekaligus yaitu Gunawan Tanuwidjaja,M.Sc., IAI seorang dosen Program Studi Arsitektur UK Petra, Dr. Arina Hayati, S.T., M.T. sebagai disabilitas dan pengajar di ITS-Surabaya serta Tri Fatchu Yusrinawati,S.Pd. seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Siswa Budhi-Surabaya.  “Perpustakaan UK Petra telah memiliki layanan ini sejak tahun 2017, mulai dari memberikan layanan peminjaman buku hingga akses layanan perpustakaan yang dibantu oleh pustakawan yang ada di kampus UK Petra. Dengan adanya seminar dan kegiatan pelatihan bahsa isyarat ini maka semakin banyak para disabilitas yang tahu bahwa tidak perlu ragu untuk datang ke perpustakaan”, ungkap Dian Wulandari, S.I.I.P. selaku Kepala Perpustakaan UK Petra Surabaya.

Tercatat sekitar 60 orang akan menghadiri sosialisasi ini yaitu siswa SLB Siswa Budhi, dosen UK Petra dan mahasiswa UK Petra. Pembicara pertama, Gunawan Tanuwidjaja,M.Sc., IAI akan bicara mengenai unit layanan disabilitas Perpustakaan UK Petra. Sedangkan Dr. Arina Hayati, S.T., M.T. yang juga seorang dosen Program Studi Arsitektur akan membagikan pengalamannya sebagai disabilitas dalam menempuh pendidikan hingga jenjang Perguruan Tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sebagai unit layanan disabilitas. Pelatihan ini merupakan pengenalan isyarat tak hanya huruf saja akan tetapi juga kalimat. “Pelatihan ini juga perlu dikenalkan pada mahasiswa agar para mahasiswa semakin menghargai keberadaan para penyandang disabilitas dan tak ragu lagi untuk membantu jika penyandang disabilitas mengalami kesulitan”, urai Gunawan Tanuwidjaja,M.Sc., IAI yang juga merupakan koordinator kegiatan ini.