Pameran Cagar Budaya Arsitektur: Karya Arsitek Estourgie, De Javasche Bank dan Jembatan Petekan

18-12-2017

Dalam Pameran Desa Informasi kali ini, library@petra menyajikan serangkaian penelitian oleh Timoticin Kwanda, Ph. D. terhadap beberapa cagar budaya arsitektur di kota Surabaya. Pameran ini digelar mulai tanggal 5 s.d. 28 Februari 2018 di Ruang Pamer Perpustakaan UK Petra, Gedung Radius Prawiro lantai 6, Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya dan dapat disaksikan selama jam buka Perpustakaan.

Cagar budaya arsitektur memiliki nilai-nilai sejarah yang berhubungan dengan seorang tokoh atau peristiwa penting, nilai estetika yang berkaitan dengan kualitas visual dan pengalaman sensori, nilai sosial, politik dan nilai pasar, namun sangat disayangkan, banyak bangunan-bangunan pada masa kolonial Belanda belum terdokumentasi karena terabaikan atau kurangnya data sejarah yang tersedia. Pameran ini bertujuan untuk memberikan informasi terkini tentang pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam cagar budaya arsitektur kepada berbagai kalangan yang berkepentingan terhadap konservasi cagar budaya melalui karya arsitek-arsitek yang berpraktek di Surabaya selama masa kolonial Belanda (1925-1942) dan pada masa setelah kemerdekaan (1945-1957), seperti karya-karya berikut ini:

Arsitek H.L.J.M. Estourgie (1925-1957)
Sampai saat ini, dalam dunia arsitektur karya-karya arsitek Belanda di Surabaya yang telah dikenal adalah arsitek Citroen dengan karya gedung Balai Kota Surabaya dan Ed. Cuypers dengan karya De Javasche Bank Surabaya, sedangkan karya-karya arsitek Estourgie belum banyak dikenal oleh masyarakat. Biro arsitek Estourgie didirikan oleh seorang arsitek Belanda bernama Henri Estourgie di Surabaya pada tahun 1925, dan biro ini terus berlangsung sampai pada tahun 1957 seiring dengan ketegangan politik antara Indonesia dengan Belanda.  Selama period ini, biro arsitek Estourgie telah mendesain lebih dari 50 bangunan terutama di kota-kota Jawa Timur, seperti Surabaya, dan Malang.

Konservasi De Javasche Bank Surabaya
De Javasche Bank adalah salah satu bank terkemuka pada zaman kolonial Belanda didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828. Selain kantor pusat di Batavia, de Javasche Bank membuka cabangnya di berbagai kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Makasar, dan Palembang. Kantor cabang De Javasche Bank Surabaya dibuka pada tanggal 14 September 1829 dengan gedung pertama terletak di pojok Schoolplein (sekarang jalan Garuda) dan Werfstraat (sekarang jalan Penjara). Pada tahun 1910, di lokasi yang sama gedung baru de Javasche Bank dibangun seperti yang ada sekarang ini. Arsitek gedung ini adalah N.V. Architecten-ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam.  Pada tanggal 1 Juli 1953, bank ini berubah menjadi Bank Indonesia, dan pada tahun 1973, Bank Indonesia Surabaya pindah ke jalan Pahlawan 105, karena gedung yang lama sudah tidak dapat menampung pertumbuhan kegiatan bank.  Pada tahun 2009, perencanaan konservasi bangunan ini yang masih kokoh dan indah ini dengan gaya arsitektur neo-renaissance dilakukan oleh tim konservasi dari program studi arsitektur Universitas Kristen Petra, dan pada tahun 2011 selama satu tahun pelaksanaan konservasi gedung ini dilaksanakan.

Rekonstruksi Jembatan Petekan atau Admiraal Ferwerdabrug
Dari sebuah majalah berjudul De Ingenieur In Nederlandsch Indie no.8, tahun 1940 tertulis bahwa jembatan di atas Kali Mas di Bataviaweg (kini jalan Jakarta) ini dirancang oleh Ir. H. Veer (Kepala pekerjaan umum Surabaya), Ir. D. J. Schaap (Manajer pabrik mesin N.V. Braat), dan TH. Schotema (perwakilan “Heemaf”). Diresmikan pada tanggal 16 Desember 1939 oleh Gubernur Jawa Timur dan diberi nama “Admiraal Ferwerdabrug” (Jembatan Ferweda) yang berasal dari nama seorang laksamana madya, yaitu Hendrikus Ferwerda (1885-1942). Melalui pembangunan jembatan ini diharapkan dapat menghubungkan lalu lintas antara Oedjoeng dimana terletak tempat pembentukan angkatan laut dengan Tandjung Perak. Pembuatan jembatan ini ditangani oleh sebuah perusahaan Belanda bernama NV Braat and Co, yang sekarang bernama PT. Bharata Metal Work and Engineering yang terletak di Gresik.  Jembatan ini awalnya disebut Ophaalbrug dalam bahasa Belanda yang berarti jembatan angkat, tetapi karena penduduk setempat sulit menyebutkan kata ophaalbrug maka diambillah nama “Petekan” dari bahasa Jawa yang artinya sama dengan arti Ophaalbrug. Nama “Petekan” ini juga diambil dari kata “petek” yang berarti menekan yang mendeskripsikan cara kerja jembatan dengan menekan tombol mekanik yang dapat membuka (naik) dan menutup (turun) jembatan. Jembatan dapat dinaikkan dan diturunkan karena saat itu sungai Kalimas menjadi jalur utama transportasi perahu tradisional yang membawa barang ke kawasan perdagangan di Kembang Jepun.